Langsung ke konten utama

Postingan

Mitos Syawal sebagai Bulan Sial

Selain menjadi kesempatan mudik dan ajang silaturahmi, bulan Syawal juga menjadi momentum emas untuk merintis kesuksesan. Dulu di masa Jahiliyah orang Arab mempercayai mitos Syawal sebagai bulan kesialan. Karenanya orang Arab Jahiliyah sangat menghindari memberlangsungkan akad nikah di bulan Syawal. Khawatir pernikahan yang dilangsungkan di bulan Syawal akan membawa kesialan bagi suami istri di hari kemudian. Tapi mitos kesialan atau dalam tradisi keilmuan Islam disebut sebagai  tathayyur  (mempercayai tanda keburukan) ini kemudian dihapus dengan kedatangan Islam melalui pernikahan Nabi Muhammad saw dengan Sayyidah Aisyah yang juga berlangsung di bulan Syawal. Apakah pernikahan di bulan Syawal itu mendatangkan kesialan bagi Nabi Muhammad saw dan Sayyidah Aisyah? Ternyata tidak. Justru keberkahan selalu menaungi pernikahan mereka. Dalam hal ini Sayyidah Aisyah mengatakan: تزوجني رسول الله صلى الله عليه وسلم في شوال وبنى بي في شوال. فأي نساء رسول الله صلى الله عليه وسلم كان أحظى...

Takwil dan Tafwidh dalam Al-Qur’an dan Hadits menurut Ahlussunnah wal Jamaah

Takwil dan  tafwidh  adalah dua cara yang berbeda dalam menyikapi dan memahami dalil-dalil nash Al-Qur’an dan hadits yang kalimat-kalimatnya rawan disalahpahami, sehingga akan mengakibatkan kekeliruan dalam meyakini sifat-sifat Allah swt. Contoh dalil-dalil  nash  yang Penulis maksud antara lain firman Allah swt: وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ Artinya, “Dan kekal ‘wajah’ Tuhan Pemeliharamu, Pemilik keagungan dan kemuliaan.” (QS Ar Rahmaan: 27). Demikian pula firman Allah: إِنَّ ٱلَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ ٱللَّهَ يَدُ ٱللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad saw), sebenarnya mereka berjanji setia kepada Allah. ‘Tangan’ Allah di atas tangan mereka.” (QS Al Fath: 10). Selain itu ada pula sabda Nabi Muhammad saw riwayat Abi Hurairah ra: يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ Artin...

Mengenal Buraq, Kendaraan Rasulullah saat Isra dan Mi’raj

Perjalanan Isra dan Mi’raj adalah sebuah momentum sangat bersejarah bagi umat Islam. Perjalanan ini sangatlah panjang, menempuh jarak bermiliar-miliar kilometer dimulai dari Makkah hingga puncak langit ketujuh. Tentu perjalanan ini tak mungkin dapat ditempuh dengan kendaraan pada umumnya bahkan dengan alat transportasi modern sekalipun. Perjalanan sangat agung ini tentu menggunakan alat transportasi yang istimewa. Hal ini sangat penting mengingat rute serta persinggahan yang dilewati adalah tempat yang saling berjauhan beratus-ratus kilo jaraknya. Kendaraan yang dipakai oleh baginda Rasulullah selama Isra dan Mi’raj disebut dengan buraq. Nama Buraq sendiri diambilkan dari asal kata “ barq ” yang bermakna kilat karena hewan tunggangan ini berjalan secepat kilat. Ada yang berpendapat, dinamakan buraq karena memiliki warna putih mengkilat dan berkilau cahaya. Ada juga yang berpendapat, dinamakan buraq karena memiliki warna loreng di kulitnya, sebagaimana orang arab menyebut “ barqak ” (lo...

Benarkah Istawa samadengan Istawla?

BENARKAH ISTAWA = ISTAWLA? Oleh Ustadz : Abdul Wahab Ahmad   Salah satu yang sering disalahpahami secara massal oleh Salafi-Wahabi adalah anggapan bahwa Asy'ariyah mewajibkan mentakwil kata Istawa dalam al-Qur’an dengan makna Istawla. Akhirnya mereka mengoleksi berbagai kelemahan takwilan ini sebagai celah kritik. Ada yang bilang kalau diartikan istawla berarti Allah harus bertengkar dulu dengan Arasy. Ada juga yang bilang kalau istawla ini hanya berdasarkan syair orang Kristen bernama Akhthal. Ada yang bilang kalau makna istawla ini tidak cocok dengan beberapa siyaq (konteks ayat). Ada juga yang menanyakan kalau maksudnya adalah menguasai berarti apa gunanya disebut arasy saja? Bukankah Allah menguasai semuanya? Ada juga yang menggugat dengan aneh, apa bisa dikatakan Allah istawla atas tempat sampah? dan sebagainya. Semua hal ini muncul akibat kesalahpahaman. Ada juga yang memgklaim  bahwa makna istawla ini tak dikenal dalam bahasa Arab. Tentu saja klaim ini tak bisa dipertah...

Menyikapi Orang Yang Mengatakan Allah Ada Di Mana-Mana

MENYIKAPI ORANG YANG MENGATAKAN ALLAH ADA DI MANA-MANA Saya pernah kebagian ngetes pengetahuan mahasiswa. Yang saya test adalah anak yang betul-betul awam, gak pernah mondok, murni sekolah umum hanya saja takdir membawanya nyasar ke UIN Jember.  Di bagian tema akidah, saya iseng bertanya "di mana Allah" meniru pertanyaan khas komunitas sebelah. Dia menjawab, Allah ada di mana-mana. Secara standar, itu jawaban yang salah sebab itu jawaban khas aliran sesat Jahmiyah dan Muktazilah di masa lalu. Tapi apakah saya langsung bilang/memvonis bahwa dia sesat? Tidak. Bukan begitu SOP ketika berbicara dengan orang awam. Semua pernyataan mereka harus ditahqiq dulu maksudnya sebab orang awam seringkali tidak dapat menyusun kalimat dengan baik meskipun maksudnya benar.  Saya tanya, "jadi menurutmu Allah ada di semua tempat gitu, di ruangan sini, di ruangan situ, di sakumu, di sepatumu, di tempat sampah itu?" sambil saya menunjuk lokasi-lokasi itu.  Dia agak kaget awalnya lalu kem...

Tidak Cukup Bila Hanya Mengatakan Tidak Serupa Dengan Makhluk

TIDAK CUKUP BILA HANYA MENGATAKAN TIDAK SERUPA DENGAN MAKHLUK Kalangan Taimiyun-Wahabi sering kita dengar menetapkan organ-organ bagi Allah lalu ditambah dengan pernyataan "yang tidak sama dengan makhluk". Misalnya, mereka berkata: "Allah punya tangan dalam makna tangan yang diketahui bersama tapi tidak serupa dengan makhluk." Mereka menganggap embel-embel tersebut sudah menyelamatkan akidah mereka dari tasybih. Di antara kutipan favorit mereka yang membuat mereka yakin bahwa tindakan itu benar adalah pernyataan Ishaq ibn Rahawaih dan adz-Dzahabi berikut: وقَالَ إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ: " إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ: يَدٌ كَيَدٍ، أَوْ مِثْلُ يَدٍ، أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ، أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ    Ishaq bin Ibrahim (Rahawaih) berkata: Sesungguhnya hanya terjadi tasybîh apabila berkata tangan [Allah] seperti tangan atau mirip tangan [makhluk], pendengaran [Allah] seperti atau mirip pendengaran [makhluk]. (At-Turmudzi, Sunan at-Turmudzi, juz III, halam...

Ragam Pendapat Ulama Tentang Derivasi Lafal Allah

Ragam Pendapat Ulama Tentang Derivasi Lafal Allah Akar kata memang selalu menuai silang pendapat di kalangan para pakar semantik. Jangankan kata demi kata dalam Bahasa Indonesia, bahasa yang ramai diucapkan dunia pun juga menyimpan kecamuk silang pendapat yang tak terhitung banyaknya. Bahkan, lafal Allah saja dalam Bahasa Arab, berhasil menduduki “tranding satu” dalam “perang dingin” pena para ulama. Mereka berdebat luar biasa tentang apakah lafal Allah itu derivatif atau tidak. Sampai-sampai, Ibnul Qayyim al-Jauziyah melabelinya dengan istilah a’zhamal ikhtilaf (silang pendapat terbesar). Namun, karena temanya bukan termasuk kajian dasar, maka silang pendapat ini akhirnya tenggelam dari perbincangan kebanyakan muslim, terutama di Indonesia. Faktor lain adalah, karena kajian atas tema ini tidak bersinggungan langsung secara erat-khususnya di mata umum-dengan akidah yang telah melekat di hati mereka. Dengan kata lain, tidak penting apakah lafal Allah derivatif atau tidak, yang penting A...

Kajian Ulama